01 / Awal mulaSebuah studio yang lahir dari rumah sendiri.
Akusara Samitra dimulai dari satu proyek yang sangat sederhana: rumah keluarga kami sendiri di Tabanan, 2018. Saat itu kami tidak berniat membangun studio. Kami hanya ingin sebuah rumah yang masuk akal untuk iklim Bali — yang dingin tanpa AC, kering tanpa dehumidifier, dan terang tanpa perlu menyalakan lampu di siang hari.
Tujuh tahun kemudian, prinsip itu masih sama. Yang berubah hanya skala dan jumlah keluarga yang mempercayakan rumahnya pada kami.
02 / FilosofiIklim adalah tuan rumah.
Sebelum garis pertama digambar, kami bertanya: kemana matahari bergerak di sini, jam berapa hujan turun paling lebat di musim Maret, kemana angin laut bertiup di sore hari, dan dimana pohon yang sudah lebih tua dari kami semua tumbuh. Jawaban-jawaban itu menentukan bentuk denah, sebelum selera estetik manapun masuk ke dalam ruangan.
"Kami tidak melawan iklim. Kami berkompromi dengannya, lalu meminta iklim menjadi pendingin, pencahayaan, dan ventilasi gratis untuk rumah yang kami buat."
Pendekatan ini menghasilkan rumah dengan konsumsi energi rata-rata 40% lebih rendah dari rumah konvensional di Bali — sebuah angka yang kami catat tapi tidak kami iklankan. Kenyamanan adalah hasilnya. Efisiensi adalah konsekuensinya.
03 / SkalaSatu rumah dalam satu waktu.
Kami tidak mengambil banyak proyek. Tahun lalu kami menyelesaikan empat. Tahun ini target kami lima. Bukan karena kami tidak mampu lebih banyak — tapi karena setiap rumah membutuhkan kehadiran kami di lapangan, di samping tukang yang bekerja dengan kayu dan batu, setiap minggu, sampai selesai.
Itulah yang dimaksud studio keluarga. Tiga arsitek, satu site supervisor tetap, dan lingkaran tukang Bali yang sudah bekerja bersama kami sejak proyek pertama.