EKONOMI · REFLEKSI· 20 Mei 2026· 5 min
Rupiah Menuju Merdeka 17.845
Catatan singkat seorang Data Scientist tentang ekonomi, kepercayaan, dan kenapa diam itu bukan jawaban.
Hari Selasa lalu aku nonton satu video pendek di YouTube. Channel-nya Ferry Irwandi, durasinya 16 menit. Pembahasannya satu hal: kenapa rupiah tembus Rp17.500 per dolar.
Aku bukan ekonom. Bidangku Data Science — sehari-hari kerjanya ngolah data, ngelatih model, debug pipeline. Tapi nontonnya tetap relevan. Karena harga semua tools AI yang aku pakai sekarang sudah tidak masuk akal — Cursor, Claude, OpenAI API, semuanya USD-billed, dan tiap bulan tagihannya makin nyekik. Karena temen-temenku, fresh grad Computer Science yang skill-nya bukan main-main, masih banyak yang berdarah-darah cari kerja sampai sekarang.
Rupiah lemah bukan abstraksi makroekonomi. Dia ada di hidup aku, di hidup kita.
Tiga lapis, bukan satu kambing hitam
Yang menarik dari video itu, dia bilang penyebab rupiah lemah ada tiga lapis: eksternal, domestik, kepercayaan.
Eksternal: dolar lagi kuat-kuatnya. Suku bunga Amerika belum turun, konflik geopolitik belum reda, modal global lari ke US karena dianggap safe haven. Bukan cuma rupiah yang lemah — ringgit Malaysia, baht Thailand, peso Filipina semua kena. Rupiah cuma salah satu yang paling kena.
Domestik: ini yang lebih bikin aku berhenti scroll. Belanja pemerintah Q1 2026 naik 31,4% (Rp815 triliun), sementara pendapatan negara cuma naik 10,5%. Subsidi energi melonjak 266%. Pertumbuhan ekspor cuma 0,34%, tapi impor naik 10,05%. Defisit Q1 sendiri Rp240 triliun.
Angka-angka ini sebetulnya tidak ekstrem secara individual. Banyak negara defisit dan baik-baik aja. Tapi dalam kombinasi stress-test seperti ini, dia jadi sinyal.
Kepercayaan: ini lapis ketiga — paling underrated, dan menurutku paling penting. Karena ekonomi modern itu game persepsi sebanyak game angka.
Yang bikin aku berhenti: cara pejabat berkomunikasi
Kalau ada satu poin dari video itu yang nempel, ini dia: stop bandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke Amerika, Singapura, atau Korea.
Mereka negara maju. Ukurannya beda. Ruang untuk tumbuh sudah penuh. Bandingkanlah dengan negara berkembang yang setara: Vietnam tumbuh 7%+, Taiwan 13%+, Turki struggle tapi tetap di-benchmark dengan emerging peers.
Indonesia 5,61% itu sebenarnya median di antara peer group, bukan outlier positif.
Tapi pejabat kita bilang, "Wah, kita di atas Amerika." Mahasiswa ekonomi semester satu pun tahu itu fallacy. Dan ketika pejabat tidak bisa atau tidak mau menjelaskan secara objektif, market membaca itu sebagai sinyal: disiplin fiskalnya tidak bisa diandalkan.
Tempo: Pertumbuhan yang penuh kontradiksi
Ini yang menurutku paling menyakitkan untuk dibaca. Tempo menulis dalam editorial 5 Mei 2026:
"Kabar itu terasa meyakinkan: ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen (secara tahunan) per akhir kuartal I 2026. Tapi pasar keuangan merespons negatif kabar positif itu. Rupiah melemah ke level 17.425 per dolar Amerika Serikat — rekor terendah sepanjang sejarah — pada hari yang sama saat data pertumbuhan ekonomi itu terbit."
Baca itu pelan-pelan. Hari yang sama. Pemerintah merilis berita pertumbuhan ekonomi yang katanya bagus, dan pada hari yang persis sama itu pasar memberikan jawaban: rupiah cetak rekor terendah. Tempo menyebutnya "pertumbuhan ekonomi penuh kontradiksi" — angka tumbuh, tapi nilai tukar rontok.
Mereka juga menggunakan framing yang lebih lokal dan lebih terasa: "lima lapis beban menggencet rupiah". Bukan sekadar tiga lapis seperti video Ferry Irwandi, tapi lima — dengan tambahan outflow dari investor asing yang sudah konsisten net sell di pasar saham, dan beban bunga utang pemerintah yang naik karena yield SBN ikut naik.
Yang Prabowo bilang ke rakyat desa
Tempo juga merekam satu kalimat Prabowo yang viral, diucapkan saat meresmikan koperasi di Nganjuk, 16 Mei 2026, ketika rupiah sudah tembus 17.600:
"Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar, kok. Iya kan?"
Mungkin maksudnya menenangkan. Tapi kalau aku sebagai warga membacanya, terdengarnya seperti meremehkan. Karena harga pupuk, harga bibit, harga BBM, harga obat — semua itu punya komponen impor. Dan komponen impor itu berdenominasi dolar. Orang desa tidak pegang dolar, tapi dolar memegang harga makanan mereka.
Dua hari kemudian, mantan calon presiden Anies Baswedan merespons: "Harga kebutuhan pokok serba naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, hingga tabungan terus tergerus. Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak."
Aku tidak setuju semua hal Anies pernah ucapkan, tapi pada poin ini, dia tidak salah.
The Economist dan Reuters bilang hal yang serupa
Yang menarik, kalau aku tarik benang merah ke sumber luar negeri, suaranya senada. The Economist, salah satu media keuangan paling kredibel di dunia, konsisten kritis ke Prabowo selama setahun terakhir.
Di artikel November 2025 berjudul "Indonesia raids its rainy-day pot", mereka tidak mem-frame Purbaya (Menteri Keuangan) sebagai individu jelek. Mereka mem-frame dia sebagai eksekutor kebijakan yang sedang "menggerayang" (verb aslinya: raiding) cadangan strategis senilai $27 miliar — Saldo Anggaran Lebih (SAL). Pilihan kata yang keras. Bukan managing, bukan deploying. Raiding.
Di artikel Mei 2026, headline-nya bahkan lebih frontal: "Indonesia's president is jeopardising the economy and democracy". Mereka menulis: even his allies fear for Indonesia's macroeconomic stability.
Ketika sumber dalam khawatir, sumber luar khawatir, dan creator ekonomi domestik khawatir — itu bukan koinsidensi. Itu konsensus.
Reuters menambahkan dimensi lain. Pada 18 Mei 2026, mereka melaporkan rupiah cetak rekor terendah baru — dan yang bikin nyess, headline-nya: "president downplays day-to-day impact". Prabowo meremehkan dampak harian terhadap rakyat. Validasi langsung untuk apa yang dibahas video tadi soal komunikasi pejabat.
Dua hari berikutnya, 20 Mei 2026, Bank Indonesia akhirnya bertindak: menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin — kenaikan terbesar dalam tahun ini, dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Cuma satu tujuan: nahan rupiah jangan jatuh lebih dalam.
Dan jauh sebelum itu, April 2026, lembaga pemeringkat Fitch sudah memberi peringatan halus: kalau defisit Indonesia tembus 3% PDB akibat dampak perang Iran, mereka belum akan langsung downgrade — tapi pernyataan "belum akan" itu sendiri adalah sinyal bahwa mereka sedang memantau.
Tiga pertanyaan yang aku bawa pulang
Pertama: kalau rupiah terus melemah, di mana posisi generasi seperti aku?
Aku bekerja di field yang produknya global (AI, ML), tools-nya berdenominasi USD (cloud, API), tapi penghasilannya rupiah. Mata pencaharianku punya structural mismatch. Mengasah skill yang USD-denominated jadi safety net — itu satu insight pribadi yang aku dapat dari diskusi ini.
Kedua: apa yang bisa pemerintah lakukan, dan apa yang tidak.
Solusi yang ditawarkan video itu sebetulnya sederhana: benerin komunikasi, potong belanja tidak efektif, parkir devisa dengan insentif (bukan paksaan), sinergi BI–OJK–Kemenkeu. Tidak ada yang revolusioner. Tapi political will-nya yang susah — memotong belanja berarti memotong popularitas jangka pendek.
Ketiga: apa yang bisa aku lakukan?
Sebagai individu? Sedikit. Sebagai bagian komunitas? Lebih banyak. Tulisan ini salah satunya — caraku memproses kekhawatiran, sambil mengajak orang lain mikir ulang sebelum menelan headline begitu saja.
Penutup yang tidak setengah-setengah
Indonesia belum krisis. Tapi rupiah Rp17.500 ini bukan berita baik yang bisa di-put a happy face on. Bukan juga sinyal panic-sell aset.
Yang dia kasih adalah waktu — kesempatan buat pemerintah membenahi sebelum jadi sistemik, dan kesempatan buat kita masing-masing memahami apa yang sedang terjadi.
Tulisan ini bukan analisis ekonomi. Aku bukan ekonom. Tapi setiap dari kita yang menyentuh dolar — entah lewat billing cloud, harga laptop, atau biaya sekolah — punya alasan untuk peduli.
Dan menurutku, tempat paling sehat untuk peduli adalah dengan menulis. Atau membaca tulisan orang lain. Atau diskusi dengan teman yang punya angle berbeda.
Welcome to the blog. Ini tulisan pertama. Mungkin bukan yang terakhir tentang topik ini.
Daftar pustaka
Tempo — "Pertumbuhan Ekonomi Penuh Kontradiksi" (5 Mei 2026); "Lima Lapis Beban Menggencet Rupiah"; "Anies Kritik Sikap Pemerintah Saat Nilai Rupiah Melemah" (18 Mei 2026); "Keseimbangan Primer APBN Negatif Terus. Apa Artinya?"
Reuters — "Indonesia rupiah hits new record low... president downplays day-to-day impact" (18 Mei 2026); "Indonesia central bank delivers hefty interest rate rise" (20 Mei 2026); "Fitch says no immediate downgrade if Indonesia's deficit tops 3% due to Iran war" (April 2026).
The Economist — "Indonesia raids its rainy-day pot" (6 November 2025); "Indonesia's president is jeopardising the economy and democracy" (14 Mei 2026).
Data primer — rilis APBN Q1 2026 Kementerian Keuangan; pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia 20 Mei 2026.
Video — Ferry Irwandi, "Kenapa Rupiah Melemah", youtu.be/2FPx1_CUzYQ.